Cinta Termiskin di Dunia?

Kisah ini sudah terkenal mendunia, dan kutulis ulang dengan bebas karena keterbatasan ingatanku...
Ada sepasang suami istri yang hidupnya pas-pas-an. Makan kesulitan. Panas keringatan. Dingin kedinginan.
Hidup apa adanya. Yang ada saja untuk hidup. Nggak ada kesempatan pergi keluar sekedar jalan-jalan dan makan di akhir minggu. Setiap hari hanya untuk bekerja memeras keringat tanpa dapat sesuatu yang lebih. Hanya cukup buat mengganjal perut untuk beberapa saat.
Tapi mereka tetap saling mencintai. Cintanya begitu kuat. Bersama-sama tetap saling mensyukuri kehidupan yang serba berat dan penuh penat. Mereka kerap berbicara dan bercanda mesra di bawah kerlap-kerlip bintang sepulang kerja berat seharian.
Si suami seorang pekerja keras dan berhati lembut; seperti seorang pahlawan yang selalu memenangkan hati istrinya. Si istri seorang yang perhatian, sabar, baik hati, dan selalu berperan sebagai penyemangat setiap harinya.
Mereka bener-bener miskin tidak punya apa-apa. Tapi si istri begitu cantik; tidak hanya cantik hatinya saja. Parasnya ayu rupawati, bibirnya mungil, matanya bening menyorotkan kemurahan hatinya, kulitnya sehat bercahaya, dan mahkotanya panjang terurai indah seperti air terjun di sejuk pegunungan.
Si suami tidak punya harta apa-apa, kecuali jam tangan antik peninggalan orang tuanya. Dan sayangnya ia tidak bisa mengenakannya karena rantainya sudah tidak ada. Jadi ia selalu mengantongi jam tangan itu kemanapun ia pergi.
Sehari sebelum perayaan hari pernikahan mereka, mereka menjadi bingung. Uang sudah tidak ada sepeserpun di kantong. Mau ngasih kado apa? Pake apa membelinya? Dengan sembunyi-sembunyi mereka saling mengamati satu sama lain untuk mengetahui kebutuhan dari pasangan masing-masing.
Ayam berkokok membangunkan sepasang sejoli kasmaran ini. Hari terindah itu terulang kembali setiap tahunnya. Tapi mereka sengaja pura-pura tidak tahu. Dan tetap bekerja seperti biasanya sampai sore.
Saat berjumpa kembali di sore hari, si suami begitu kaget. Ia membawa bungkusan kado untuk istrinya. Sementara si istri juga sudah menyiapkan kado istimewa buatnya.
Si suami menghadiahkan perlengkapan perawatan rambut untuknya mulai dari sisir, catok, hair dryer, hair tonic, vitamin, dll. Ia telah menjual jam tangan warisannya untuk membeli semuanya itu.
Sementara si istri membelikannya rantai jam supaya ia bisa mengenakan jam kesayangannya itu setiap hari. Ia telah memotong rambutnya sampai pendek dan menjualnya di salon.
Mereka menangis dan saling berpelukkan. Menyadari betapa cinta mereka bener-bener cinta sejati.

1 komentar:

Dian Utami Sitompul mengatakan...

wahh..saya terharu sekali membacanya...;)