Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.
Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan! Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.
Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir.
Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?
Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.
Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam? Aku berpaling pada ayahku. Katanya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”
Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang. Aku teringat kata-kata ayahku,
“Semua terjadi karena suatu alasan.”
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.
Aku memiliki misi lain dalam hidup.
Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah.
Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan
Pengalaman bersama TUHAN yang sungguh indah dan luar biasa, tentunya bisa saudara bagikan melalui tulisan yang menjadi berkat bagi kita semua
Kesaksian pemeran Yesus (Pasion Of The Christ)
THE PASSION OF JIM CAVIEZEL
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam
Film "The Passion Of Jesus Christ". Ini Kesaksiannya, ...
JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM
FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA
(SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL " THE
THIN RED LINE". ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR
BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.
Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi
menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari
memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan
akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan,
keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson,
yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang
sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
"Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam
sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi
sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah
ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah..., Dia ini Tuhan,
siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan
memerankannya? Mereka pasti bercanda.
Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, "Hallo ini, Mel". Kata
suara dari telpon tersebut. "Mel siapa?", Tanya saya bingung. Saya
tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara
Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya
menyanggupinya.
Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film
yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2
lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan
sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus
belajar bahasa dan dialek aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko
terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan
film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di
Hollywood.
Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut.
Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai
lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci
oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis
pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam
dunia perfilman.
Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film
itu, saya katakan padanya. "Mel apakah engkau memilihku karena inisial
namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku
sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?"
Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi
agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari
perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di "Thin Red
Line".
Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda
panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau
memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung
resikonya, mari kita buat film ini!
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan
karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah
saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang
seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan.
Pertanyaan-pertanya an tersebut membingungkan saya, karena begitu banya
referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.
Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak
lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua
ini.
Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu
saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir
dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam
keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri
saya.
Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA
dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun
cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya
sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh
hidup saya.
Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran
sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin
menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan
masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar
casting.
Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau
yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau
yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi
aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah
memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.
Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada
bayangan saya.
Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap
berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir
tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain
duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak
nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya
sangat tertekan.
Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul
oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya,
saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang
sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu
berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya
dengan sekuat tenaga.
Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan
tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong
kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar
biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat
saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan
dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya
terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.
Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti
itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat
dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya
apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti
kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu.
Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan
Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus
mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau
tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini.
Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan
dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi,
dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton
lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling
mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting
penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk
yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi
papan setebal 3 cm.
Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai
bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat,
berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang
mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk
memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal
dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat
dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan
mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus
telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang
tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau
menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyekit kedinginan
yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak,
mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus
menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh
depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas
kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton
dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak
mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya
pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh
hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya
harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa,
berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar
memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak
bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui
semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi
mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan,
bagi fisik maupun jiwaNya.
Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu
adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting
mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung
diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena
memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya
terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas
kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah
objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru
saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah
sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara
menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri.
Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil
meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah
berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak "dia sadar! dia
sadar!".
"Apa yang telah terjadi?" Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah
halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka
segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus,
dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh
sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.
Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, "Tuhan,
apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan
ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan"?
Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita
lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu
adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya
iman kita tetap kuat dalam ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu
memerankan Yesus. Oh... itu sangat luar biasa... mengagumkan. .. tidak
dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada
sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan
Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya
memerankan diriNya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat
dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya,
tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang
mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia
menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu
menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang
hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang.
Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman
yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi.
Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat
Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya
harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan
film ini.
Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak
melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang
bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film
lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan
menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak
banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang
tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan
mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada
hidup anda. Amin.
"TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA"
for God so loved the world that He gave His only begotten Son that whosoever believeth in Him should not perish, but have everlasting life
John 3 : 16
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam
Film "The Passion Of Jesus Christ". Ini Kesaksiannya, ...
JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM
FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA
(SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL " THE
THIN RED LINE". ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR
BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.
Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi
menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari
memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan
akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan,
keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson,
yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang
sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
"Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam
sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi
sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah
ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah..., Dia ini Tuhan,
siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan
memerankannya? Mereka pasti bercanda.
Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, "Hallo ini, Mel". Kata
suara dari telpon tersebut. "Mel siapa?", Tanya saya bingung. Saya
tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara
Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya
menyanggupinya.
Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film
yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2
lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan
sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus
belajar bahasa dan dialek aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko
terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan
film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di
Hollywood.
Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut.
Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai
lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci
oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis
pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam
dunia perfilman.
Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film
itu, saya katakan padanya. "Mel apakah engkau memilihku karena inisial
namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku
sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?"
Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi
agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari
perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di "Thin Red
Line".
Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda
panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau
memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung
resikonya, mari kita buat film ini!
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan
karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah
saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang
seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan.
Pertanyaan-pertanya an tersebut membingungkan saya, karena begitu banya
referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.
Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak
lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua
ini.
Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu
saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir
dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam
keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri
saya.
Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA
dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun
cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya
sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh
hidup saya.
Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran
sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin
menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan
masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar
casting.
Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau
yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau
yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi
aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah
memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.
Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada
bayangan saya.
Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap
berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir
tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain
duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak
nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya
sangat tertekan.
Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul
oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya,
saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang
sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu
berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya
dengan sekuat tenaga.
Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan
tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong
kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar
biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat
saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan
dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya
terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.
Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti
itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat
dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya
apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti
kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu.
Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan
Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus
mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau
tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini.
Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan
dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi,
dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton
lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling
mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting
penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk
yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi
papan setebal 3 cm.
Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai
bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat,
berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang
mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk
memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal
dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat
dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan
mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus
telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang
tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau
menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyekit kedinginan
yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak,
mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus
menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh
depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas
kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton
dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak
mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya
pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh
hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya
harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa,
berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar
memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak
bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui
semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi
mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan,
bagi fisik maupun jiwaNya.
Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu
adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting
mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung
diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena
memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya
terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas
kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah
objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru
saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah
sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara
menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri.
Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil
meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah
berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak "dia sadar! dia
sadar!".
"Apa yang telah terjadi?" Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah
halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka
segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus,
dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh
sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.
Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, "Tuhan,
apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan
ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan"?
Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita
lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu
adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya
iman kita tetap kuat dalam ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu
memerankan Yesus. Oh... itu sangat luar biasa... mengagumkan. .. tidak
dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada
sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan
Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya
memerankan diriNya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat
dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya,
tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang
mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia
menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu
menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang
hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang.
Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman
yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi.
Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat
Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya
harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan
film ini.
Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak
melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang
bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film
lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan
menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak
banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang
tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan
mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada
hidup anda. Amin.
"TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA"
for God so loved the world that He gave His only begotten Son that whosoever believeth in Him should not perish, but have everlasting life
John 3 : 16
Langganan:
Postingan (Atom)